EKONOMI KESEHATAN RAGAM

2000 – 3000 Orang Target Pengunjung Wisata Kabupaten Bandung Dimasa Libur Panjang

KAB. BANDUNG | MPN – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung sudah dalam menyambut Wisatawan, terutama dalam menghadapi kunjungan Wisatawan dimasa libur panjang dipenghujung 2020 di tengah Pandemik Covid – 19

Hal itu disampaikannya Kepala Disparbud Kabupaten Bandung, Yosef Nugraha pada kegiatan Ngawangkong Bari Ngopi yang dilelenggarakan Humas Pemkab Bandung, Jumat (4/12/2020) di taman Pacantel, lingkup Pemda Kabupaten Bandung.

Dituturkan Yosef, bahwa Disparbud punya Komitmen kepada siapapun dalam menerapkan protokol kesehatan. Dengan minitoring di tempat wisata. Apalagi sektor pariwisata harus mendapat perhatian nomor satu dari Disparbud di tengah pandemi Covid -19.

“Kami sudah 8 kali sosialisasi dengan Ekrap dengan tujuan menciptakan situasi yang bersih dan aman. Selain Swab test. Minggu depan kerjasama dengan Dinkes dengan target 1000 Swab bagi seluruh pengusaha pariwisata,” tuturnya.

Kadisparbud Kab. Bandung Yosef Nugraha saat memberikan keterangan pada wartawan, Jumat (04/12) di Soreang. Foto : del.

Lebih lanjut Yosef mengungkapkan, sampai saat yang ini belum dilakukan teguran yang berat bagi pelanggar protokol kesehatan bagi pihak pengusaha Pariwisata.
“Pada masa libur panjang, tingkat status atau level sangat berpengaruh pada tingkat kunjungan, tetapi yang terpenting adalah memberikan kepercayaan kepada pengunjung.” Ungkapnya.

Konsep pergerakan ekonomi memerlukan situasi. 11 hari libur, diperkirakan akan ada pengaruh pada peningkatan kunjungan. Sekitar 150 persen dari kondisi normal atau sekitar 2000 – 3000 pengunjung pada saat long Weekend.

Yosef menjelaskan, secara ekonomi akan berpengaruh pada pemangkasan liburan, namun di tengah Pandemi bukan segalanya, yang utama aspek ekonomi harus berjalan, seluruh Steakholder harus berjalan sesuai komitmen.

“Pada proses sertifikasi sudah selesai, tinggal menunggu sertifikat dari kementrian RI. Dan seluruh pelaku usaha berkesempatan dengan pelayanan online,” jelasnya.

Tidak ada yang spesial dalam pelayanan, namun langkah meningkatkan kenyamanan fasilitas tetap kontinue dilakukan, dengan tindakan yang opensif sosialisasi untuk derajat imunitas.

Pada penetapan zona merah bagi Kabupaten Bandung, langkah strategis adalah mengubah dan melengkapi kekurangan.

Akupansi kunjungan wisata di Kabupaten Bandung, lebih lanjut dijelaskan Yosef, ada di sekitar 70 – 80 persen dan sudah termasuk bagus kunjungan wisata kabupaten Bandung. Sedangkan akupansi ketersediaan hotel targetnya 90 persen.

Wisatawan Kabupaten Bandung mayoritasnya lokal sekitar 50 persen, kunjungan dari manca negara sekitar 10 persen.

Kewenangan Disparbud adalah memberikan peringatan, pembinaan dan pengawasan. Kalaupun ada penutupan, sifatnya hanya sementara sambil menyiapkan protokol kesehatan.

Untuk Travel beible, dijelaskannya, pada dasarnya wisata di kabupaten Bandung tidak ada masalah, namun kebijakan pusat bagaimana, sebab konsepnya itu ada dipusat.
Banyak tersebar simpul baru yang berbasis wisata alam. Dan itu menjadi bagian wisata unggulan.

“Hasil rapat dengan satgas Covid – 19, kabupaten Bandung tidak ada pembatasan pengunjung, sepanjang pengunjungnya sehat. Berkolaborasi dengan seluruh pihak, agar pemahaman covid-19, dan kepariwisataan bisa tepat,” pungkasnya.

Sementara Kabid Pemasaran Disparbud Kabupaten Bamdung, Vena Andriawan. Juga mengatakan, untuk destinasi wisata sama pelayanan, tetap buka dengan pengetatan lebih pada protokol kesehatan.
Harus dipahami bila ada Destinasi Wisata batu tujuannya untuk membuka ekonomi baru.
Destinasi wisata baru itu diantaranya, Bandung Utara Satu, Bandung Timur Satu, Pangalengan Satu.*(deli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × 5 =